Pelangi di Bukit Angkasa
Di tengah teriknya panas matahari, terlihat sesosok bayangan hitam yang mendekati rumah seorang gadis bernama Pelangi. Bayangan itu pun tanpa ragu mengetuk pintu rumah Pelangi. Tak lama tiba-tiba ….
“kenapa Bim? Kenapa enggak dia aja yang ngasih tahu aku, kalau dia mau ninggalin aku? Kenapa harus lewat surat ini?” isak pelangi yang tak kuasa menahan emosinya. “Pel, kontrol emosimu … mungkin dia gak mampu melihat tangisanmu Pel…” Bujuk Bima “Ya sih Bim, mungkin itu alasannya! Tapi tetap aja … dia itu … Huh! Aku bakal nyusul dia Bim …” lanjut pelangi yakin.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya Pelangi mempunyai cukup banyak uang dan ia pun dapat menyelesaikan pendidikannya, pelangi ditemani oleh Bima menyusul Angkasa ke Bandung “Bim, aku sudah enggak sabar untuk bertemu Angkasa …” kata Pelangi yang duduk di sebelah kursi Bima.
“Ya Pel, habis ini kita udah sampai Bandung kok! Ntar tinggal cari alamatnya Angkasa deh.” tegas Bima sambil membelai rambut indah Pelangi.
Bima menganggap Pelangi seperti adiknya sendiri. Dan Bima tidak mau melihat Pelangi sedih ataupun terluka. Sejak kecil Pelangi, Bima dan Angkasa adalah sahabat sejati, mereka pun dibesarkan di daerah yang sama. Ketika Angkasa pergi meningalkan kedua sahabatnya, karena ayahnya ditugaskan di Bandung, yang paling tidak bias menerima keadaan itu adalah Pelangi. Dia merasa ada yang kurang dari dirinya kalau Angkasa tidak bersamanya.
Bus yang dinaiki mereka akhirnya sampai juga di Bandung, Berjam-jam mereka mencari alamat Angkasa dan akhirnya mereka tepat berada di depan rumah yang sangat megah itu. Dan di sana terdapat seorang cowok yang duduk di teras sambil membaca buku. Gaya duduk cowok itu … buku yang dipegangnya …. Rambutnya …. Itu kan …
Mata Pelangi mengerjap cepat berulang kali. Dan Pelangi mencoba membuka mulutnya, “Sa..” panggil Pelangi ragu dengan suaranya yang pelan.
Angkasa mencari dari mana suara itu berasal. Akhirnya mata dan mata bertemu. Mata Pelangi berkaca-kaca saat menatap Angkasa, buku yang dipegang Angkasa pun terjatuh. “Pelangi?? Kamu ada di sini??” Tanya Angkasa dengan nada tidak percaya.
“Sa … aku sudah sampaikan suratmu!” sela Bima
“Kamu… kamu … jahat Sa …!!!”
“Maksud kamu Pel ..?”
Tangisan Pelangi pun mulai terdengar ….
“Kamu gak pernah tahu apa yang aku rasakan selama bertahun-tahun, Sa …”
“Emang apa yang kamu rasain ?? Aku gak tahu, jika kamu belum kasih tahu aku …”
“Kamu pura-pura gak tahu, atau gimana sih?” emosi Bima pun meluap
“Hey, jangan pojokin aku! Aku gak tahu apa-apa …! Maafin aku Pel, aku cuma bias nyakitin kamu… aku… aku bukan …” Angkasa mencoba menjelaskan.
“Stop Sa ..! aku Cuma enggak mau kamu jauh dari aku…!!” potong Pelangi.
Angkasa tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya memeluk Pelangi dengan erat dan mengusap air mata yang membasahi pipi Pelangi dengan lembut.
Keesokan harinya, Angkasa mengajak Pelangi ke suatu tempat …
“Kamu mau bawa aku ke mana Sa..?”
“pelangi, kamu percaya sama aku kan ?”
“Ya!” jawab Pelangi sembari menyalakan MP3 di dalam mobil Angkasa.
“Ya udah, lihat aja nanti!” kata Angkasa dengan senyum manisnya.
Setelah sampai tempat yang dituju, Pelangi turun dari mobil. Pelangi melihat kanan kiri dengan heran. Angkasa pun hanya tertawa melihat sikap Pelangi yang terlihat kekanak-kanakan.
“Di sinilah aku melihatmu… dan berharap kau selalau hadir dalam setiap langkahku!!”
“Aku gak ngerti apa yang kamu maksud Sa!” kata Pelangi yang mengeksresikan waja bodohnya dan duduk di rerumputan hijau.”
“Orang-orang menyebut bukit ini “Bukit_Angkasa”. Jujur Pel, sebenarnya aku sangat sedih saat harus meninggalkanmu. Di bukit inilah aku merasa terhibur … dan aku gak pernah lupa sama kamu Pel! Karena di Bukit_Angkasa ini aku dapat melihat warna-warni pelangi… Jadi aku merasa walaupun kita jauh, kita akan selalu dekat di hati” Jelas Angkasa.
“Ha… aku salah ya? Aku pikir kamu sudah bosen bersahabat sama aku! Makanya kau tinggalin aku…?!
“Eh? Kamu gak salah kok Pel” kata Angkasa sambil melirik gadis cantik di sebelahnya.
“Tuh kan bener… kamu memang udah berubah Sa…!”
“Hahaha... Cuma bercanda kok Pel! Sebenarnya, aku pingin lebih dari sahabatmu!”
Pelangi sangat terkejut dan matanya melotot ke arah Angkasa, jantungnya pun berdetak cepat. Pelangi diam seribu bahasa, dia gak tahu harus jawab apa. Keringat pelangi mengalir dari keningnya, tetapi Angkasa hanya mencibir.
“Kamu kenapa? Kok kayak kepiting rebus?” Angkasa tertawa terbahak-bahak
“Em… enggak kok! Gak apa-apa…” jawab Pelangi gugup dan dia beranjak dari tempatnya.
“Mau ke mana?”
“Pulang! Ayo Sa pulang!”
Dua bulan sudah Pelangi dan Bima berada di kota kembang itu, dan sudah dua bulan pula Pelangi menghabiskan waktu bersama Angkasa.
Suatu hari saat Pelangi hindak menemani Angkasa mengurus Ijazahnya, tiba-tiba pandangan Pelangi mengabur dan pelangi tergeletak begitu saja. Angkasa dan Bima yang melihat kejadian itu cepat-cepat membawa Pelangi ke rumah sakit. Bima tahu kalau sebenarnya Angkasa harus segera mengurus ijazah, makanya Bima menyuruh Angkasa agar mempercayakan masalah Pelangi padanya. Sementara Angkasa mengurus ijazahnya, Bima sangat terkejut akan berita yang disampaikan oleh dokter padanya…. ~tentang keadaan Pelangi~
Deras hujan telah usai mengguyur Bandung selama 1 jam. Bunyi sahut-bersahutan petir pun kini sirna sudah. Rerumputan yang masih membasah itu mulai melambai perlahan karena belaian angin pagi. Langit mulai menerang. Dua insan manusia saling berpengangan tangan sembari menatap langit yang senja.
“Sa…” Pelangi mencoba membuka pembicaraan.
“Hemm…!”
“Kamu mau janji sama aku?”
“Janji? Janji apa?”
“Kalau aku udah gak ada di dunia ini, kamu jangan sedih ya…?”
“Maksud kamu mati ya? Pel… kamu gak akan mati, karena warna-warni pelangi akan selalu ada di bukit Angkasa maupun di hatiku!”
“Sa, semua akan kembali… Tapi ingat ya, kalau aku mati duluan, kamu juga jangan nangis!”
“Ye… kamu GR! Siapa juga yang mau nangis?” Angkasa mencibir.
“Bagus deh… karena aku gak pernah mau lihat kamu sedih cuma gara-gara aku! Janji ya Sa?”
“Em… aku gak bisa janji Pel… soalnya aku gak tahu gimana jadinya aku kalau gak ada kamu!” tapi aku akan berusaha agar gak sedih kok Pel, jika hal itu terjadi!”
“Makasih ya Sa..!”
Akhir bulan Desember pun datang, di bukit yang sepi, di bawah langit yang lagi sedikit mendung, seorang duduk sembari memandangi sebuah surat dengan merautkan senyum terbaiknya, seorang sahabat menghampirinya…
“Hey… sedang apa kamu di sini?” tanya lelaki itu, lalu mendekat.
“Ada yang mau aku sampaikan ke kamu!”
“Apa?? Eh Bim. Aku mau tanya, apakah Pelangi sudah kembali?”
“Gak! Pelangi gak akan kembali…” jawabnya dengan raut muka yang tidak karuan.
“mengapa?”
“Em… ini surat untukmu Sa…”
Angkasa menerima surat itu. Terdapat tulisan yang hanya berinisial “P” di amplopnya dan Angkasa pun membuka surat itu dengan perlahan
Dear angkasa putra….
Sa, aku percaya, bahwa kau telah masuk ke dalam hatiku
Namun, sejauh apa hatimu dari hatiku?
Hingga kurasa ragu… hingga kurasa jauh…
Bagai melihat langit di atas lautan yang berombak.
Kabur, tak terlihat… itulah cintamu.
Kapankah kau tenang laut?
Hingga dapat kulihat langit biruku?
Ingin ku temani langitku… Tapi, tak dapat kuraba rasa di hatinya
Dapatkah kau sadarkan aku langitku?
Hingga tak hanya kucari bayangmu di atas lautan
Hingga akhirnya ku mengadah dan menatap dirimu…
Angkasa…..
Maaf kalau selama ini aku selalu menyusahkanmu
Dan aku minta maaf karena beberapa bulan terakhir ini aku sudah bohong ke kamu
Sebenarnya selama ini aku gak ke mana-mana…
Aku Cuma gak mau jadi beban buat kamu
Aku… aku… hanya cewek penyakitan Sa…
Aku gak seperti cewek lain, yang bisa selalu ada buat kamu…
Sa, aku harap kamu bisa dapat cewek yang sempurna.
Jujur….
Aku sangat mencintaimu Angkasa….
Aku merasa tenang jika kamu ada di sampingku….
Aku ingin sekali memilikimu…. Tapi….
Maafkan aku karena aku telah mencintaimu selama ini….
Makasih atas semuanya ya Sa….
Makasih atas Buki_ Angkasa dan warna-warni pelangi
Aku sangat senang Sa, karena kau dapat menemaniku di sisa hidupku.
Seluruh memori tentang kamu dan aku tak akan pernah terlupakan…
Sa, kamu gak boleh sedih ya….
Karena bukit angkada dan pelangi, tidak akan pernah mati SELAMANYA
Angkasa…..
My Prince ….
Pertama dan terakhir kalinya aku mencintai seseorang, yaitu kamu….
Pengagummu…
Pelangi
Getaran di tubuh Angkasa semakin hebat merajalela. Jantungnya berdegum deras, sederas hujan yang kini mulai turun membasahi bumi…Sa, aku percaya, bahwa kau telah masuk ke dalam hatiku
Namun, sejauh apa hatimu dari hatiku?
Hingga kurasa ragu… hingga kurasa jauh…
Bagai melihat langit di atas lautan yang berombak.
Kabur, tak terlihat… itulah cintamu.
Kapankah kau tenang laut?
Hingga dapat kulihat langit biruku?
Ingin ku temani langitku… Tapi, tak dapat kuraba rasa di hatinya
Dapatkah kau sadarkan aku langitku?
Hingga tak hanya kucari bayangmu di atas lautan
Hingga akhirnya ku mengadah dan menatap dirimu…
Angkasa…..
Maaf kalau selama ini aku selalu menyusahkanmu
Dan aku minta maaf karena beberapa bulan terakhir ini aku sudah bohong ke kamu
Sebenarnya selama ini aku gak ke mana-mana…
Aku Cuma gak mau jadi beban buat kamu
Aku… aku… hanya cewek penyakitan Sa…
Aku gak seperti cewek lain, yang bisa selalu ada buat kamu…
Sa, aku harap kamu bisa dapat cewek yang sempurna.
Jujur….
Aku sangat mencintaimu Angkasa….
Aku merasa tenang jika kamu ada di sampingku….
Aku ingin sekali memilikimu…. Tapi….
Maafkan aku karena aku telah mencintaimu selama ini….
Makasih atas semuanya ya Sa….
Makasih atas Buki_ Angkasa dan warna-warni pelangi
Aku sangat senang Sa, karena kau dapat menemaniku di sisa hidupku.
Seluruh memori tentang kamu dan aku tak akan pernah terlupakan…
Sa, kamu gak boleh sedih ya….
Karena bukit angkada dan pelangi, tidak akan pernah mati SELAMANYA
Angkasa…..
My Prince ….
Pertama dan terakhir kalinya aku mencintai seseorang, yaitu kamu….
Pengagummu…
Pelangi
“Bim, antarkan aku… ke kuburan Pelangi…!” kata Angkasa dengan raut muka yang sangat pucat.
Akhirnya Angkasa dan Bima ke kuburan Pelangi yang tepat di balik bukit Angkasa.
Air mata Angkasa, rasanya telah tiada, hatinya hancur dan Angkasa hanya diam melihat tulisan yang terukir di nisa marmer, itu adalah PELANGI…
“Pelangi kena tumor otak. Dia neyuruhku untuk tidak mengatakan penyakitnya padamu sampai ajal menjemputnya. Aku berbohong padamu soal Pelangi yang selama ini pergi ke Kalimantan. Karena dia tak ingin melihat seseorang yang amat disayanginya sedih. Sa…. Dia sangat mencintaimu…”
“Bim, aku juga sangat mencintainya! Aku gak ingin dia mati…. Aku ingin dia selalu ada untukku” Angkasa melemah dan memegangi kuburan Pelangi.
“Sabar Sa…. Aku yakin dia akan selalu mencintaimu, walaupun di dunia berbeda”.
“PELANGI… I LOVE YOU ….!!” Jeritan Angkasa menggelegar dengan petir yang menyambar-nyambar.
~~~ Selesai ~~~

